Minggu, 05 September 2010

Peluang usaha beternak sapi potong















Cara Berternak Sapi






SAPI POTONG bagian I







I. PENDAHULUAN



Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan akan daging yang terus meningkat pula. Sehubungan dengan hal tersebut, ternak sapi khususnya sapi potong merupakn salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Sebab sektor atau kelompopk ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya. Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani.



Sapi sebgai salah satu hewan pemakan rumput sangat berperan sebagai pengumpul bahan bergizi rendah yang dirubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Daging untuk pemenuhan gizi mulai meningkat dengan adanya istilah ”Balita” dan terangkatnya peranan gizi terhadap kualitas generasi penerus.



Jadi untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dari daging ini kita khhususnya peternak perlu meningkatkan [roduksi daging. Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun.







II. MEMILIH JENIS SAPI



Sapi-sapi lokal yang terdapat di Propinsi Banten kesemuanya dapat digunakan untuk usaha penggemukan. Akan tetapi tidaklah semua jenis sapi itu mempunyai prospek yang sama untuk digemukkan. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan jenis sapi yang lebih prospektif untuk digemukkan.




Indikator-indikator tersebut adalah :



v Jumlah populasi



v Jumlah pertambahan populasi setiap tahun



v Penyebaran



v Produksi karkas dan



v Efisiensi penggunaan pakan



Jenis-jenis sapi potong yang biasa dipelihara adalah : sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole, sapi Peranakan ongole, sapi Charolois, sapi Hereford, sapi Brangus dan lain-lain.

dipelihara masyarakat








III. PEMELIHARAAN DAN UKURAN KANDANG



Dibandingkan dengan kandang sapi milik petani di Eropa, maka kandang sapi petani-petani di Propinsi Banten walaupun hanya terdiri dari tiang bambu, atap rumbia dan lantai yang dipadatkan, tetapi cukup baik. Ini disebabkan karena petani di Propinsi Banten hanya memilik sapi antara 3-4 ekor, dimana sapi-sapi tersebut hanya pada malam hari saja dipelihara dalam kandang, sedang pada siang hari ternak diikat di halaman rumah karena tidak dikerjakan atau digembalakan.



Setiap pagi bilamana sapi sudah dikeluarkan, maka kotoran dalam kandang dibersihkan bersama-sama sisa makanan diangkut dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah disediakan, untuk kemudian dijadikan pupuk, sedang bekas-bekas urine disiram dengan abu dari api unggun. Tentang tempat makanan untuk ternak petani di Propinsi Banten tidak membutuhkan perlengkapan, oleh karena makanan yang diberikan adalah rumput, daun-daunan dan jerami, tidak pernah dan jarang sekali diberikan makanan konsetrat, kecuali sapi-sapi yang digemukkan. Makanan cukup diletakkan di tanah, bila perlu dibatasi dengan palang-palang dari bambu atau kayu.







Kandang untuk sapi potong hendaknya dibuat dari bahan-bahan yang murah tapi kuat, keadaannya harus terang dan pertukaran udara bebas. Atap dari genting/rumbia/ilalang. Lantai sebaiknya disemen atau sekurang-kurangnya tanah dipadatkan.







IV. MAKANAN



Sapi-sapi petani di Propinsi Banten diberi makan rumput, daun-daunan atau jerami. Umumnnya secara kualitas maupun kuantitas makanan sapi-sapi itu cukup baik. Ini dapat dilihat dari keadaan sapi-sapinya yang cukup segar, gemuk dan kesehatan baik.




Bila dipandang perli petani di Propinsi Banten menyediakan makanan untuk musim kemarau. Biasanya petani menyimpan jerami, penyimpanan makanan ini tidak perlu banyak karena ternak yang dipelihara hanya sebanyak 3-4 ekor.



Pakan untuk sapi potong dapat dikelompokkan menjadi :



a. Hijauan



Hijauan yang berkualitas baik (rumput unggul atau campuran rumput dengan hijauan kacang-kacangan) umumnya sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertunbuhan dan reproduksi yang normal sehingga pada pemeliharaan sapi dianjurkan lebih banyak menggunakan hijauan (85-100%), apabila hijauan banyak tersedia, pemberian konsentrat hanya dianjurkan untuk keadaan tertentu saja seperti saat sulit hijauan (di musim kemarau) atau untuk penggemukkan.



Contoh hijauan unggul :



v Rumput setaria



v Rumput gajah (Pennisetum purpureum)



v Rumput raja (Kinggrass)



v Rumput benggala (Panicum maximum)




v Rumput bede (Brachiaria decumbens)



v Lamtorogun(Leucaena leucocepala)



v Turi (Sesbania grandiflora)



v Gamal (Gliricidia maculata)



v Kaliandra



Contoh hijauan limbah pertanian :



v Jerami kacang panjang



v Jerami kedelai




v Jerami padi



v Jerami jagung



b. Konsentrat



Contoh konsentrat :



v Dedak padi



v Onggok (ampas singkong)



v Ampas tahu



v Dan lain-lain








c. Makanan tambahan



Contoh : vitamin, mineral dan urea



Secara umum makanan untuk seekor sapi setiap hari sebagai berikut :



- Hijauan :35-47 kg atau bervariasi menurut berat dan besar badan



- Konsentrat : 2-5 kg



- Makanan tambahan : 30-50 gram







V. KESEHATAN




Salah satu unsur perawatan yang juga tidak boleh diabaikan adalaj penjagaan kesehatan termasuk pula pencegahan masuknya penyakit ke peternakan.



Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering berjangkit baik yang menular ataupun yang tidak menular. Penyakit menular yang terjangkit pada umumnya menimbulkan kerugian besar bagi peternak dari tahun ke tahun ribuan ternak sapi menjadi korban penyakit radang limpa (Anthrax), ribuan ternak sapi lainnya kemudian terkena serangan penyakit mulut dan kuku, serta penyakit surra.



Beberapa jenis penyakit yang sering terjadi pada sapi potong adalah :



a. Anthrax (radang limpa)



b. Penyakit mulut dan kuku



c. Penyakit surra



d. Penyakit radang paha



e. Penyakit Bruccellosis (keguguran menular)



f. Kuku busuk (foot ror)




g. Cacing hati



h. Cacing perut



i. Dan lain-lain







VI. PERKEMBANGBIAKAN



Pada usaha ternak sapi potong yang sistem produksinya untuk menghasilkan anak-anak sapi yang hampir sama umurnya dalam jumlah yang besar untuk dijual sebagai anak sapi (Feeder Cattle), maka perkawinannya dilakukan secara musiman



Sapi potong mulai dewasa kelamin yaitu apabila mulai timbul oestrus (tanda-tanda birahi, bronst). Pada umur 8-12 bulan, tergantung pada bangsa-bangsa, makanan, dan lingkungannya.



Cara perkawinan pada sapi potong dapat dilakukan dengan pengaturan dan pengawasan sepenuhnya ooleh manusia yang disebut cara ”Hand Mating” yaitu pemeliharaan jantan dan betina dipisah dan bila ada betina yang bronst, diambilkan pejantanya agar mengawininya atau dilakukan perkawinan buatan atau dengan cara perkawinan bebas di padang rumput. Dimana sapi-sapi jantan dan betina yang sudah dewasa pada musim perkawinan dilepas bersama-sama, bila ada sapi-sapi betina yang bronst tanpa campur tangan si pemilik akan terjadi perkawinan.




Cara perkawinan inilah yang lazim dilakukan pada usaha sapi potong dimana perkawinan biasabya dilakukan secara musiman.







VII. PENGOLAHAN HASIL



Beragamnya jenis produk olahan ternak dengan nilai tambah yang tinggi memberikan kesempatan kepada masyarakat di Propinsi Banten untuk memilih berbagai alternatif. Jenis olahan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan minat masyarakat. Dibandingkan dengan produk olahan memiliki daya tahan yang lebih lama sehingga dapat mengurangi resiko akibat perubahan harga. Selain itu, dalam upaya turut menjaga kelestarian lingkungan, pengolahan produk sampingan seperti kulit, tulang dan darah dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan.



Penanganan yang cermat dan teliti sangat diperlukan dalam proses produksi untuk menghasilkan pruduk olahan sesuia dengan standar yang sngat erat kaitannya dengan mutu dan kesehatan produk yang dihasilkan. Hal ini menjadi kendala utama dalam memperkenalkan teknologi pengolahandi wilayah pedesaan, karena pengembangan agribisnin dan agroindustri peternakan dan hasil ikutannya belum berkembang dengan optimal di Propinsi Banten.



Hasil dari olahan ternak sapi potong diantaranya adalah :



a. daging bisa diolah sebagi dendeng, daging asap, sosis, bakso,abon, corned.



b. kulit bisa diolah sebagi bahan untuk pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang.








VIII. PEMASARAN



Didalam pemasaran hasil sebaiknya dikoordinasikan oleh kelompok tani atau ternak KUD. Agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak karena bisa ditanggung bersama-sama.



Pemasaran hasil sapi potong selain dipasarkan sebagai sapi potong berupa produk daging, juga sering dijual dalam keadaan hidup dan sebaiknya memilih standar harga per kilogram berat hidup.



Hasil panen ternak sapi potong dapat berupa daging dan kulit serta hasil sampingnya berupa pupuk tau gas bio.



TERNAK SAPI BAGIAN KE II





BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

( Bos sp. )



1. SEJARAH SINGKAT Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang

dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak


Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong

pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah

seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.



2. SENTRA PETERNAKAN Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan

sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak

terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di

Amerika.



3. J E N I S Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah

sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu,

masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk

luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).



Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole,

sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi


Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang

ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi

PO, Madura dan Brahman.



Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi

Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh

rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat

mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong.

Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau

kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung

ekor berwarna putih.



Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya

45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang

diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya,

termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap

gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.




4. MANFAAT Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya

menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan

sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi

juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan

oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat

memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.



Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:



1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.



2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan

barang kerajinan



3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan

masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.




5. PERSYARATAN LOKASI Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah

yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh

kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10

meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat

dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di

tengah sawah atau ladang.



6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA



6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah

sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada

satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda

penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling

bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk

jalan.




Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal

apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan

penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan

lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.



Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai

penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan

dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas

kandang yang hangat.



Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan

terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan

lainnya.



Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau

2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi


cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di

sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%.

Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga

dataran tinggi (> 500 m).



Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan

kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi

konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.





1) Konstruksi dan letak kandang

Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan

salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari

pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang.

Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke


luar lantai kandang tetap kering. Bahan konstruksi kandang adalah kayu

gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh

tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.

Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih.

Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh

kehabisan setiap saat.

Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan

sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan

kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.



2) Ukuran Kandang

Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang

akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2

m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor

anak sapi cukup 1,5x1 m. 3) Perlengkapan Kandang

Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang

sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan


dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/

tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen

dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.



Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya.

Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan

tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk

membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa

dipakai untuk memandikan sapi.







6.2. Pembibitan





Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:

1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap


silsilahnya.



2) Matanya tampak cerah dan bersih.



3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari

hidung tidak keluar lendir.



4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.



5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.



6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.



7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.



8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan

bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.






Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali,

sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah

setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:

1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola. 2) kualitas dagingnya

maksimum dan mudah dipasarkan. 3) laju pertumbuhannya relatif cepat. 4)

efisiensi bahannya tinggi.



6.3. Pemeliharaan

Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan

kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :

a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.

b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.

c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.



Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga..


Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang

ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.



Sanitasi dan Tindakan Preventif

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak

mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit

dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.



Pemberian Pakan

Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa

pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang

memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.



Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture

fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.



Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang


biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas,

dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak

memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan

bermacam-macam jenis rumput.



Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan

istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang,

sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10%

dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum

tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu.

yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu,

dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi

dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal

dengan istilah ransum.



Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan

keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi


menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam

hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman

hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput

raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.



Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan

tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah

jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada

musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat

kasar.



Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase

ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup

rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang

disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase

jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.




Pemeliharaan Kandang

Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu)

dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi

tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya

berjalan lancar.



Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum

sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan

dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau

tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen

berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan

pula peralatan untuk memandikan sapi.





7. HAMA DAN PENYAKIT



7.1. Penyakit


1. Penyakit antraks

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung,

makanan/minuman atau pernafasan.

Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3)

pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4)

kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga,

mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6)

limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang

terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.



2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)

Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air

susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.

Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta

terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu

badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama


sekali; (4) air liur keluar berlebihan.

Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara

terpisah.



3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)

Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan

minuman yang tercemar bakteri.

Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah

dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang,

selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit

bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi

akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.

Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.



4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)

Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.

Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih


keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa

sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.



7.2. Pengendalian

Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan

tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:

1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.

2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan

pengobatan.



3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.



4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai

petunjuk.








8. P A N E N



8.1. Hasil Utama

Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya



8.2. Hasil Tambahan

Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai

hasil tambahan dari budidaya sapi potong.







9. PASCA PANEN



9.1. Stoving

Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar

diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan


2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat

mencemari daging.



3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang

diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara

tuntas.



4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan

jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.







9.2. Pengulitan

Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan

pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi

dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika

sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur


dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar

matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.



9.3. Pengeluaran Jeroan

Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan

jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.



9.4. Pemotongan Karkas

Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas

dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun

tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas

sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50%

recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari

seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh

karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia.

Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh,

dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat


spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang

akan dipotong.



Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas

tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha

depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi

komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat

penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan

hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme

selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.



Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan

lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah

paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin),

lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk

(rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih

kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor


enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging

daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang

11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang

2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat

karkas (100%).



Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:

Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %

Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan

yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu,

saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).







10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN




10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor

pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:



1) Biaya Produksi

a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,- b.

Kandang Rp. 1.000.000,- c. Pakan

- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari

- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari

Rp. 12.000.000,-

Rp. 7.482.500,- d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-



2) Pendapatan

a. Penjualan sapi kereman

Tambahan >Rp. 75.000,- Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-




2) Pendapatan

a. Penjualan sapi kereman

Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg

Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg

Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg



Rp. 111.110.000,- b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp.

1.095.000,- Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-





3) Keuntungan

a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor

sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-





4) Parameter kelayakan usaha


a. B/C ratio = 1,61 10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong

maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging

untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan,

perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota

metropolitan Jakarta.



Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen

yaitu :





a) Konsumen Akhir

Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang

membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini

mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai

98% dari konsumsi total.




Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :



1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )

Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan

dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas

tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.





2. Konsumen asing

Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan

dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di

samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini

belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika

dilakukan porsinya tidak signifikan.





b) Konsumen Industri


Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk

diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba.

Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin

meningkat

Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4

tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang

kegiatan ekonomi.



Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :

a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi

peternakan rakyat.

b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili

peternak penggemukan c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).



11. DAFTAR PUSTAKA 1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi,

Kanisius, Yogyakarta. 2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya,

Jakarta. 3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis


Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka 4. Direktorat

Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata

Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta. 5. Lokakarya

Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister

Manajemen UGM, Yogyakarta. 6. Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of

Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.



12. KONTAK HUBUNGAN 1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan -

BAPPENAS

Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829 2. Kantor

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan

Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta

10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web:

http://www.ristek.go.id
◄ Newer Post Older Post ►